Sabtu, 28 Maret 2015

Ajarkan Aku Memahami Kata Menunggumu


“Ada hal yang perlu kau tahu, engkau tak perlu menungguku siap. Jika kau mau, jujurlah dan lekas katakan. Jangan kaubiarkan aku menunggu hingga yang siap lainnya hadir, dan membuatku berkata IYA”
                Cerita itu aku tulis beberapa tahun lalu, saat aku menerka dan mulai belajar melangkah kembali mengeja setiap arti cinta. Sebuah cahanya mengajakku bangkit dan bangun kembali untuk menapak dan mecipta sebuah kisah. Ia bak surya, seindah namanya yang indah begitu abadi. Kisah itu bermula kala aku terjatuh dan terluka. Tangan halusnya begitu sigap menarik dan merangkulku untuk kembali menari. Tepatnya menari dihatinya, sebagai makhluk yang dia cinta.
                Aku tahu, semua tak berjalan lama dan tak terlalu membekas seperti yang pertama. Namun, setiap titiknya kini begitu aku selami maknanya. Bahkan hingga sekarang tulusnya masih terus terasa, bagai hembusan angin saat kuberdiri dipucuk kokohnya gunung dibawah senja. Berhembus sejuk, membawa kesegaran, melepaskan dahaga, dan meringankan kelelahan. Bahkan beberapa penggal tawanya masih begitu aku rasakan hangatnya, bagaikan secangkir kopi yang kuseruput hari itu. Telah kutelan namun manis dan nikmatnya membekas dalam rongga mulutku.
                Semuanya begitu terasa semakin istimewa. Saat sore itu, engkau mengetuk pintu rumahku dan menyapa dengan penuh kerinduan. Sontak bahagia itu menyeruak, senyummu hadir dan menarik pelangi yang berbinar dimataku. Sapamu terdengar “hai, apa kabar?” Seketika bibir ini tersenyum, hanya bisa tersenyum. Mulutku kaku untuk menjawab  sapamu. Tiba-tiba aku bisu, semua kataku telah terganti oleh senyum ini, yang menarik hatiku kembali. Taukah kau? Saat kau ketuk tadi hatiku kembali terbuka dan berharap engkau masuk kembali seperti yang pernah terjadi kepada kita.
                Hah, ada sebuah harap yang kau titipkan pada pertemuan singkat senja itu. Yang kau hantarkan bersama senyum dan sapamu. Yang kau bungkus dengan pesan cinta itu. Kemudian kau tanam dan kau tinggalkan dengan kata menunggu. Benar aku menunggu hari dimana engkau berani berdiri dihadapanku dan mengucap kata yang pernah kau ucap sebelumnya. Aku menunggu kala itu kembali terulang, saat cinta itu terungkap dan kau lingkarkan janji itu pada jari mungilku. Kau tau, setelah sekian lama hatiku tak berasa, untuk kedua kalinya kau membuatnya bisa merasakan kembali bagaimana indahnya senja. Namun, tiba-tiba kau hilang tanpa pesan sedangkan aku asik dengan penantian tanpa kepastian.
                Akhirnya dia hadir dengan sebuah kesiapan yang begitu nyata, menyatakan sebuah kesanggupan untuk menjaga hatiku. Menyatakan keinginan untuk mendapatkan cintaku. Namun sayang, dia bukan kamu yang selama ini aku tunggu. Dan akhirnya kuterima semua itu, karena yang kuingginkan bukan menunggu aku siap mencintainya, tapi ia yang siap untuk mencintaiku. Rasanya dahaga ini masih belum terobati, karena sesakku belum kau pahami. Engkau masih saja tak menyampaikan kesiapanmu hingga aku harus menyimpan kembali rasaku untukmu. Tak tahu sampai kapan, akankan akan tumbuh kembali pada saatnya nanti atau akan benar-benar terkubur bersama tulisan singkat ini. Aku percaya, engkau tetap indah dan tetap kurindu hadirnya dengan nyata.

                   “Karena mencintaimu adalah sebuah pelajaran bagaimana pentingnya kepastian. Karena ia cinta hadir tak hanya mengetuk, namun permisi untuk masuk dan singgah serta mengajarkanku bagaimana mencintai. Aku tahu engkau mampu mewarnai hidupku dengan warna merah, biru, hijau, kuning. Tetapi lelaki lainnya telah meminta izin terlebih dahulu untuk mewarnai hidupku. biarlah ia mewarnai hidupku dengan warna lain. ingin aku dapat menunggu lebih lama lagi hingga engkau siap mengatakannya padaku. Namun, bagiku waktu sangat singkat dan tidak dapat menunggu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar