Selasa, 20 Januari 2015

yakinlah, esok rinduku menjadi rindu yang teristimewa

Hallo PALEMBANG
Malam ini kutitipkan kerinduanku yang begitu amat
Rindu yang paling dingin
Rindu yang paling hangat
Rindu yang paling mencekam
Rindu yang paling menyejukkan
Rindu yang paling menyedihkan
Rindu yang paling membahagiakan
Rindu yang kian memberat dan kemudian merintik esok hari
Bersama senyum dan pelukanmu tanah yang selalu kupuja
Tanah yang tak pernah memberikan pagi hari yang mewah seperti emas
Tanah yang tak pernah memberi dingin saat berdiri di puncak tertinggi
Tanah yang tak pernah memberi kokohnya karang terhempas deburan ombak
Tanah yang tak pernah memberi kasih sayang bersama tawa dan tingkah gila
Namun, engkaulah tanah yang selalu ramah dengan senyum dan sapa hangat
Tanah dimana sumber semangat kehidupanku bermuara
Tanah dimana intanku bersembunyi kala daku tak tampak dimata
Tanah dimana sebuah perjuangan orang-orang luar biasa dimulai
Ya, tanah yang selalu menyuguhkan sebaik doa dalam setiap jeda ibadahnya
Tanah yang penuh dengan kekayaan hati, ketulusan jiwa, dan keikhlasan penantian
Tanah yang selalu jauh lebih indah dibanding beribu tanah lainnya
Sampai bertemu esok 
berdekap dengan nyata, di tanah terhubung jembatan Ampera

Minggu, 11 Januari 2015

Boleh Kukejar Jogja Setelah kurengkuh Simpang Lima

Hei malam yang kian larut, aku ingin bercerita tentang mimpiku. Mimpi yang pernah terkubur karena restu. Mimpi yang akan kembali aku impikan dalam tidurku, mimpi yang akan terus terkenang meski mataku terbuka dan aku kembali kedunia nyata.manriknya menjadi semakin jelas dan semakin tinggi kugantung mimpi cinta dan cinta itu,
            Hei semarang, ekau ternyata terlebih dahulu hadir menjadi nyata. Aku mengijak dan menjadi salah satu bagian dari kota penuh perjuangan ini. Kota penuh sejarah bersama cerita kita. Kota yang dahulu pernah pula menjadi impiannya hingga akhirnya aku sendiri yang mewujudkannya. Aku akui, engkau bukan mimpiku yang sesungguhnya. Ada sebuah kota luar biasa tak jauh dari engkau yang begitu aku impikan hingga sekarang. Namun takkan ada kata menyesal bagiku, engkau tetap kota penuh kenyamanan dan penuh oleh anganku. Semarang semoga dengan cepat engkau kurengkuh agar aku dapat terus berlari dengan cepat mengejar Jogja

Sabtu, 03 Januari 2015

Hei...

Hallo 2015,
Kali ini aku menghela napas pada detik pertama tahun 2015. Mataku terbuka pada lembaran pertama dari 365 hariku di 2015. Kali ini jemariku tak menarikku untuk membuat cerita pada hari pertama tahun ini. tapi kali ini jemariku menari lagi, menekan setia tombol pada keyboar laptopku. Banyak yang ingin aku ceritakan kali ini padamu 2015 yang baru saja hadir. Tentunya masih tentang engkau RINAI.....
            Lembar pertama tahun ini, engkau hadir dan membawa cerita kerinduan. Aku tak mengerti bagaimana engkau bercerita bersama kisah kita, namun tak bersamaku.  Senyummu kali ini tak seindah senja dalam jarak kita dahulu atau seperti fajar yang menghangat dalam rinduku. Aku kali ini merindu sendiri tanpa engkau yang biasanya turut merinduku. Sayang senyummu terlukis bukan melalui candak kita, secangkir kerinduanmu tak tersuguh begitu hangat bersama rangkaian aksara penuh makna yang kita susun bersama. Cukup aku pikir cerita tentangmu, aku harus menceritakan rintik rinaiku lainnya.
            Rinai kembali menyanyikan kesederhanaan yang tersenyum bersama kokohnya genggaman erat dan pelukan hangat kebersamaanku bersama mereka orang terkasih lewat suara. Ya, ibuku bapakku saudaraku omku nenekku budheku keponakanku dan semua ceritaku bersama mereka disana menghangatkan setiap udara yang mendingin. Tawa dan canda kami  tak pernah berhenti menyelimuti kerinduanku yang terus tersiram oleh rinai yang tak kunjung reda, seperti rinduku.benar, rinduku pada mereka begitu mengental. Andai jarak ini mampu disatukan tidak dalam satu waktu.
            Rinai, enkau anggun sekali menari bersama hangatnya senyum tulus mereka yang selalu sudi berbagi tingkah gila dan tawa. Aku selalu ingin menjadi bagian dari penikmat tawanya. Aku mengawali kisahku bersama rekan seperjuanganku dengan begitu anggun. Hangat sekali kisah kita, bahkan aku tak mampu merelakan diriku melewati setitik kisahku tanpa mereka.
            Rinai, aku ingin terus engkau temani melangkah pada kisah perantauan ini. mengiring setiap kisahku bersamanya yang begitu dekat dihati hingga dekat dijarak. Mengiring langkah menjajakin setiap jengkal bumi ini. rinai, aku selalu memujamu meski ku tau pada saatnya engkau akan berganti dengan senja jingga dan terik mentari yang naik dari nadir menuju azimuthNya.