Sabtu, 03 Januari 2015

Hei...

Hallo 2015,
Kali ini aku menghela napas pada detik pertama tahun 2015. Mataku terbuka pada lembaran pertama dari 365 hariku di 2015. Kali ini jemariku tak menarikku untuk membuat cerita pada hari pertama tahun ini. tapi kali ini jemariku menari lagi, menekan setia tombol pada keyboar laptopku. Banyak yang ingin aku ceritakan kali ini padamu 2015 yang baru saja hadir. Tentunya masih tentang engkau RINAI.....
            Lembar pertama tahun ini, engkau hadir dan membawa cerita kerinduan. Aku tak mengerti bagaimana engkau bercerita bersama kisah kita, namun tak bersamaku.  Senyummu kali ini tak seindah senja dalam jarak kita dahulu atau seperti fajar yang menghangat dalam rinduku. Aku kali ini merindu sendiri tanpa engkau yang biasanya turut merinduku. Sayang senyummu terlukis bukan melalui candak kita, secangkir kerinduanmu tak tersuguh begitu hangat bersama rangkaian aksara penuh makna yang kita susun bersama. Cukup aku pikir cerita tentangmu, aku harus menceritakan rintik rinaiku lainnya.
            Rinai kembali menyanyikan kesederhanaan yang tersenyum bersama kokohnya genggaman erat dan pelukan hangat kebersamaanku bersama mereka orang terkasih lewat suara. Ya, ibuku bapakku saudaraku omku nenekku budheku keponakanku dan semua ceritaku bersama mereka disana menghangatkan setiap udara yang mendingin. Tawa dan canda kami  tak pernah berhenti menyelimuti kerinduanku yang terus tersiram oleh rinai yang tak kunjung reda, seperti rinduku.benar, rinduku pada mereka begitu mengental. Andai jarak ini mampu disatukan tidak dalam satu waktu.
            Rinai, enkau anggun sekali menari bersama hangatnya senyum tulus mereka yang selalu sudi berbagi tingkah gila dan tawa. Aku selalu ingin menjadi bagian dari penikmat tawanya. Aku mengawali kisahku bersama rekan seperjuanganku dengan begitu anggun. Hangat sekali kisah kita, bahkan aku tak mampu merelakan diriku melewati setitik kisahku tanpa mereka.
            Rinai, aku ingin terus engkau temani melangkah pada kisah perantauan ini. mengiring setiap kisahku bersamanya yang begitu dekat dihati hingga dekat dijarak. Mengiring langkah menjajakin setiap jengkal bumi ini. rinai, aku selalu memujamu meski ku tau pada saatnya engkau akan berganti dengan senja jingga dan terik mentari yang naik dari nadir menuju azimuthNya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar