Hallo 2015,
Kali ini aku menghela napas pada detik
pertama tahun 2015. Mataku terbuka pada lembaran pertama dari 365 hariku di
2015. Kali ini jemariku tak menarikku untuk membuat cerita pada hari pertama
tahun ini. tapi kali ini jemariku menari lagi, menekan setia tombol pada
keyboar laptopku. Banyak yang ingin aku ceritakan kali ini padamu 2015 yang
baru saja hadir. Tentunya masih tentang engkau RINAI.....
Lembar
pertama tahun ini, engkau hadir dan membawa cerita kerinduan. Aku tak mengerti
bagaimana engkau bercerita bersama kisah kita, namun tak bersamaku. Senyummu kali ini tak seindah senja dalam
jarak kita dahulu atau seperti fajar yang menghangat dalam rinduku. Aku kali
ini merindu sendiri tanpa engkau yang biasanya turut merinduku. Sayang senyummu
terlukis bukan melalui candak kita, secangkir kerinduanmu tak tersuguh begitu
hangat bersama rangkaian aksara penuh makna yang kita susun bersama. Cukup aku
pikir cerita tentangmu, aku harus menceritakan rintik rinaiku lainnya.
Rinai
kembali menyanyikan kesederhanaan yang tersenyum bersama kokohnya genggaman
erat dan pelukan hangat kebersamaanku bersama mereka orang terkasih lewat suara.
Ya, ibuku bapakku saudaraku omku nenekku budheku keponakanku dan semua ceritaku
bersama mereka disana menghangatkan setiap udara yang mendingin. Tawa dan canda
kami tak pernah berhenti menyelimuti
kerinduanku yang terus tersiram oleh rinai yang tak kunjung reda, seperti
rinduku.benar, rinduku pada mereka begitu mengental. Andai jarak ini mampu
disatukan tidak dalam satu waktu.
Rinai,
enkau anggun sekali menari bersama hangatnya senyum tulus mereka yang selalu
sudi berbagi tingkah gila dan tawa. Aku selalu ingin menjadi bagian dari
penikmat tawanya. Aku mengawali kisahku bersama rekan seperjuanganku dengan
begitu anggun. Hangat sekali kisah kita, bahkan aku tak mampu merelakan diriku
melewati setitik kisahku tanpa mereka.
Rinai,
aku ingin terus engkau temani melangkah pada kisah perantauan ini. mengiring
setiap kisahku bersamanya yang begitu dekat dihati hingga dekat dijarak. Mengiring
langkah menjajakin setiap jengkal bumi ini. rinai, aku selalu memujamu meski
ku tau pada saatnya engkau akan berganti dengan senja jingga dan terik mentari
yang naik dari nadir menuju azimuthNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar