Senin, 27 Oktober 2014
aku rindu, bahkan pada setiap titik tangis dan tawa kita
malam ini rasanya terlalu dingin untuk daku nikhmati meski berada dalam kehangatan rekan-rekan yang telah menguatkanku. malam ini rasanya aku seperti seorang patung yang dipertontonkan oleh sebuah atraksi masa lalu. ya benar sekali. tiba-tiba aku rindu. rindu semua titik kisah kita. kau ingat, empat tahun rasanya bukan waktu yang singkat memahami skenario Tuhan kala itu. rasanya waktu itu tentu bukan waktu yang sebentar untuk menuliskan kisa-kisah yang begitu anggun untuk dikenang kali ini. kau ingat bagaimana titik bahagia serta derita yang kita rangkai bersama menjadi lukisan kenangan kini. dikau ingat bagaimana setiap titik-titik itu mengerogoti setiap jengal pikiranku kini? jujur daku telah lelah memendam segala rasa ini. ekau tak bersalah yakinlah, hanya saja aku yang tak pandai menata kenangan kisah kita. kini aku kembali terkubur bersama kenangan itu bersamamu. terkubur dalam sebuah lubang cerita maha raksasa. yang setiap saat akan mampu menjatuhkanku pada rasa tak ingin dan takkan pernah ingin. mungkin alasanku saat ini untuk tak mengenal lebih jauh lelaki indah lainnya adalah engkau. tapi tenanglah kenangan, aku takkan menyeret dan memaksamu untuk kembali mengagumiku layaknya dahulu. bintang yang mati akan terus bersinar cahayanya hingga waktunya nanti. dan begitulah saya, meski kisah kita telah layu dan mati kini, kenangannya akan memancar indah pada tempatnya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)