“Ada hal yang perlu kau tahu, engkau tak
perlu menungguku siap. Jika kau mau, jujurlah dan lekas katakan. Jangan kaubiarkan
aku menunggu hingga yang siap lainnya hadir, dan membuatku berkata IYA”
Cerita
itu aku tulis beberapa tahun lalu, saat aku menerka dan mulai belajar melangkah
kembali mengeja setiap arti cinta. Sebuah cahanya mengajakku bangkit dan bangun
kembali untuk menapak dan mecipta sebuah kisah. Ia bak surya, seindah namanya
yang indah begitu abadi. Kisah itu bermula kala aku terjatuh dan terluka. Tangan
halusnya begitu sigap menarik dan merangkulku untuk kembali menari. Tepatnya menari
dihatinya, sebagai makhluk yang dia cinta.
Aku
tahu, semua tak berjalan lama dan tak terlalu membekas seperti yang pertama. Namun,
setiap titiknya kini begitu aku selami maknanya. Bahkan hingga sekarang
tulusnya masih terus terasa, bagai hembusan angin saat kuberdiri dipucuk
kokohnya gunung dibawah senja. Berhembus sejuk, membawa kesegaran, melepaskan
dahaga, dan meringankan kelelahan. Bahkan beberapa penggal tawanya masih begitu
aku rasakan hangatnya, bagaikan secangkir kopi yang kuseruput hari itu. Telah kutelan
namun manis dan nikmatnya membekas dalam rongga mulutku.
Semuanya
begitu terasa semakin istimewa. Saat sore itu, engkau mengetuk pintu rumahku
dan menyapa dengan penuh kerinduan. Sontak bahagia itu menyeruak, senyummu
hadir dan menarik pelangi yang berbinar dimataku. Sapamu terdengar “hai, apa
kabar?” Seketika bibir ini tersenyum, hanya bisa tersenyum. Mulutku kaku untuk
menjawab sapamu. Tiba-tiba aku bisu,
semua kataku telah terganti oleh senyum ini, yang menarik hatiku kembali. Taukah
kau? Saat kau ketuk tadi hatiku kembali terbuka dan berharap engkau masuk
kembali seperti yang pernah terjadi kepada kita.
Hah,
ada sebuah harap yang kau titipkan pada pertemuan singkat senja itu. Yang kau
hantarkan bersama senyum dan sapamu. Yang kau bungkus dengan pesan cinta itu. Kemudian
kau tanam dan kau tinggalkan dengan kata menunggu. Benar aku menunggu hari
dimana engkau berani berdiri dihadapanku dan mengucap kata yang pernah kau ucap
sebelumnya. Aku menunggu kala itu kembali terulang, saat cinta itu terungkap
dan kau lingkarkan janji itu pada jari mungilku. Kau tau, setelah sekian lama
hatiku tak berasa, untuk kedua kalinya kau membuatnya bisa merasakan kembali
bagaimana indahnya senja. Namun, tiba-tiba kau hilang tanpa pesan sedangkan aku
asik dengan penantian tanpa kepastian.
Akhirnya
dia hadir dengan sebuah kesiapan yang begitu nyata, menyatakan sebuah
kesanggupan untuk menjaga hatiku. Menyatakan keinginan untuk mendapatkan
cintaku. Namun sayang, dia bukan kamu yang selama ini aku tunggu. Dan akhirnya
kuterima semua itu, karena yang kuingginkan bukan menunggu aku siap
mencintainya, tapi ia yang siap untuk mencintaiku. Rasanya dahaga ini masih
belum terobati, karena sesakku belum kau pahami. Engkau masih saja tak
menyampaikan kesiapanmu hingga aku harus menyimpan kembali rasaku untukmu. Tak tahu
sampai kapan, akankan akan tumbuh kembali pada saatnya nanti atau akan
benar-benar terkubur bersama tulisan singkat ini. Aku percaya, engkau tetap
indah dan tetap kurindu hadirnya dengan nyata.
“Karena mencintaimu adalah sebuah pelajaran bagaimana pentingnya
kepastian. Karena ia cinta hadir tak hanya mengetuk, namun permisi untuk masuk
dan singgah serta mengajarkanku bagaimana mencintai. Aku tahu engkau mampu mewarnai hidupku dengan warna merah, biru, hijau, kuning. Tetapi lelaki lainnya telah meminta izin terlebih dahulu untuk mewarnai hidupku. biarlah ia mewarnai hidupku dengan warna lain. ingin aku dapat menunggu lebih lama lagi hingga engkau siap mengatakannya padaku. Namun, bagiku waktu sangat singkat dan tidak dapat menunggu.”