Kamis, 23 April 2015

Saat Hatiku Mampu Lebih Jelas Memandang

Saat Hatiku Mampu Lebih Jelas Memandang
Oleh: Mugi Lestari

                Aku kinan, sudah lebih dari 5 tahun lalu aku mengamati sosok gagah yang senantiasa tersenyum kala melewati pelataran rumahku. Aku terus mengamati senyum itu yang menyejukkan. Aku terus memahamin setiap gerik bibirnya yang melengkung begitu sempurna. Lelaki itu bernama Arya, rumahnya tak jauh dari rumahku. Sudah sejak kecil kita saling tahu, namun baru akhir ini aku berani mengenalnya. Entah mengapa setiap pagi ia selalu menyapaku dengan senyumnya saat aku duduk di beranda rumahku. Ia tampan, tubuhnya tinggi tegap, kulitnya putih menyejukkan, matanya tajam memikat hati, dan rambutnya yang hitam terpapar rapi. Tak jarang ia menyapaku dengan kehangatan, “Hai kinan, Berbahagialah hari ini” ditutuplah sapa itu dengan senyumnya yang menyejukkan.
                Hidupkku tak banyak berwarna, hanya saja setiap paginya kutemui senyum-senyum baru yang menyapaku. Senyum-senyum hangat yang selalu mendekapku dengan nyata. Ayah, ibu, kakak, dan adik kembarku yang melukiskan tawa saat aku hampir behenti tertawa. Satu lagi, senyum itu yang hadir setiap paginya yang memberikan kenyamanan sesungguhnya. Aku hanya seorang gadis berkerudung hitam. Setiap harinya tak ada warna lain kecuali hitam ini yang kupakai. Entah mengapa sejak 5 tahun lalu aku begitu menyukai dan jatuh cinta dengan warna ini, warna yang hingga kini aku cintai dan menjadi bagian dari hidupku.
                Kinan, sebuah nama indah yang tersanding bersama doa dan harapan orang tua. Putri Kinan Senja Kemuning, kado terindah yang pertama kali kuterima dari ayah dan ibuku. Kado yang menjadi sebuah penyemangat dan titik puncak yang harus kuraih. Nama yang membentukku untuk menjadi seorang putri tanggung bak kokohnya karang terhempas ombak,  teduh bak lembayung senja, mewah bermahkotakan cahaya emas saat surya beranjak dari tidurnya, dan anggun bak kapas yang menari pada savana. Ringan dan tak mudah didapatkan.
                Pagi itu, tak kulihat senyum itu lewat kemudian menyapa. Kutunggu beberapa waktu kudengar sebuah langkah menuju beranda rumahku. Mendekat dan kian menghangat kurasa senyumnya. Semakin dekat hingga sapanya tepat berada di depanku “Assalamuallaikum kinan, kau menungguku?”. “wa’allaikum salam” sautku bersama senyuman untuk menjawab tanyanya. Tanya dan obrolah hangat itu belanjut mengiringi jawab senyumku itu. Secangkir kehangatan yang menyuguhkan manis, pahit, dan asam mencairkan penasaran. Tak lama bagiku waktu yang kita habiskan bersama, hanya selama minuman dalam cangkir itu habis. Kata terakhir yang ia sebut, “tetaplah menjadi kamu dan katakan padaku yang kau rindu saat ini, akan kupenuhi minggu depan pada waktu yang sama.” Aku menjawab, “aku rindu duduk diatas sebuah sepedah yang merasuk bersama udara sejuk senja. Kau bisa mempertemukanku dengan kerinduan itu?”. Dia hanya menjawab dengan senyum dan sebuah kalimat penutup “percayalah, kau akan mendapatkan keindahan seindah dirimu. Aku takkan membiarkanmu menikmati semuanya sendiri”.
                Dunia, hari ini tiba-tiba terasa begitu berharga. Aku kembali memberanikan diri mengambil kuas dan menorehkannya pada sebuah kanvas putih itu. Melukis sebuah keindahan yang terdiri dari ribuan warna. Sudah lama aku menunggu masa ini, dimana aku dapat menari, bernyanyi, dan berlari bersama warna-warna pelangi. Hariku semakin terasa hangat dan Semakin lengkap saat senyum teduhnya merangkulku semakin erat. “Arya, tak sabar aku menunggu hari dan waktu yang kau janjikan. Hari dimana sebuah kerinduanku terobati oleh sebuah kenyataan. Terimakasih Arya atas janji itu”.
                Arya, kau tau bagaimana aku melewati semua hariku menuju minggu yang akan datang. Semakin semangat aku duduk dan menjawab sapamu di beranda itu. Kulihat semangat tak pantang menyerah menyeruak pada paras tampanmu. Aku semakin teristimewa dengan warna hitam yang setia melekat ini. Tapi, kali ini sungguh berbeda. Hitamku terlihat lebih bercahaya, berkilau, memantulkan warna. Hitamku kini semakin anggun dengan secangkir senyumku tersuguh bersama sepotong senyummu. Arya, senyummu terus hadir tak dalam nyataku saja, tetapi kurasa pula dalam doaku.
***
                Pagi itu sesuai janjimu, kita bertemu dan duduk menyatukan kerinduan kita untuk saling menyapa. Aku heran mengapa akhir-akhir ini hanya sebatas senyuman yang mendarat pada pagiku. Dia nampak teburu-buru, sempat ia tak menolehku. Namun, dalam diamku aku memanggilnya “Arya, menolehlah dan tularkan semangatmu itu”. Ia menolehku dengan senyum teduhnya. Saat ia duduk dan menikmati seruputan pertamanya, langsung kuhujami dia dengan berbagai tanya. “mengapa senyummu minggu ini terkesan terburu-buru, apakah ada sesuatu yang terus kau kejar hingga kau tergesah-gesah karena kau takut ia akan berlari?”. Senyum manisnya menanggapi tanyaku, “tak ada yang perlu dikejar, jika yang kucari telah duduk manis dihadapanku, menatapku, dan merasa cemburu atas ketidak perhatianku”. Sontak aku kembali bertanya, “kali ini aku tak mampu memahami perkataanmu barusan. Terlalu bermakna atau mungkin sulit dimaknai! Tolong jelaskan dan buat aku tenang!”. Tak lama ia diam dan mencoba pertanyaanku. Tik tok seketika suasana menjadi hening dan dingin. Aku takut tanyaku tadi telah menyentil sedikit saraf rasanya. “mengapa kau diam Arya?”. Dan dia hanya menjawab “ada masanya mahkota itu akan kusematkan padamu. Mahkota yang akan menjadi penerang bagi kerudung hitammu”. Aku hanya tersipu dan menghayati setiap makna kata yang dia suguhkan dalam kalimat cinta itu.
                “Arya, kau ingat dengan permintaanku minggu lalu?”, tanyaku. Dengan sigap ia menjawab, “jelas saja, aku tidak akan melupakan suatu permintaan mulia ini. Aku punya syarat untukmu! Jika kupenuhi pintamu minggu lalu, aku ingin kau telus melontarkan pinta dan kerinduamu padaku.” “kau serius akan hal ini?” jawabku ragu. “takkan ada alasan untuk tidak mengiyakan dan menyanggupi keinginan indah itu. Takkan ada kata menolak untuk melukiskan senyuman pada kanvas ini.” Sore itu begitu terasa menyenangkan. Kesejukan yang terpapar bersama teriknya surya. Aku bebas, aku lepas, terhepas oleh angin-angin kerinduan. Angin yang mengobati lukaku yang telah terkuak 5 tahun lalu. Terimakasih arya, kau telah membuat yang tak mungkin bagiku menyadi nyata. Kau membuat yang tak bisa kulakukan saat ini menjadi hal yang bisa. Kau membuat kakiku berlari dengan hati, dan menapaki dunia dengan rasa. Aku berada di belakangmu, mendekapmu erat, berteriak lirih, mengutarakan kebahagiaan dan ketakutanku. Semuanya menjadi satu, lengkap sudah hari ini. Tak ada kebahagiaan sesempurna ini setelah kejadian itu terjadi.
                Penghujung senjaku, aku dan dia. Hanya dia dan aku duduk  di sebuah kursi dingin, panjang, dan menghadap kolam itu. Kami berbincang tentang bagaimana indahnya dunia. Kami berbincang bagaimana mensyukuri setiap karunia yang Tuhan hantarkan melalui malaikat-malaikat. Berbicara bagaimana tangan-tangan mulia itu menyentuh dan menebarkan kebaikan kepada umat-umatNya. Kami mebincangkan segala sesuatu yang telah lama tak kubagi kepada yang lainnya. Cerita yang aku simpan pada sebuah kota yang tak kuusik sejak lama. Sejak aku tak mampu lagi menatap keindahan dunia dengan nyata.
***
                Kedekatan ini semakin menghangat arya, kita semakin dekat dan erat. Semakin banyak mimpi-mimpiku menjadi nyata. Semakin banyak kerinduanku yang terobati karenamu. Semakin lengkap kebahagiaanku terlukis. Semakin banyak bahkan tak dapat kuhitung rasa syukurku terucap. Arya, kau tau aku telah beruntung mengenal lelaki sepertimu. Lelaki yang tak pernah berhenti tersenyu kepadaku. Lelaki yang tak pernah berhenti mengajariku melengkungkan senyum layaknya kamu. Lelaki yang tak mengenal lelah untuk membagi tawanya, bahagianya, dan anugerahnya kepada wanita tak sempurna ini. Kau tau, hingga detik ini mengapa aku tetap mampu menatap senyummu dengan jelas? Tentu saja, karena ketulusan dan keihklasan senyum itu yang takkan berhenti mengalir dan bermuara pada hatiku.
                Arya, hari ini kau kembali membawaku berlari dengan kakiku. Kau genggam erat tanganku, kau arahkan langkahku berlari lurus mengejar kupu-kupu yang terbang kesana kemari. Kau tumpu tubuh yang hanya bisa merasa ini menuju sebuah senja. Lembayungnya anggun menghias sebagian dari sisi danau itu. Kau menuntunku pada ujung sebuah dermaga, kau persilahkanku untuk duduk dan menikmati setiap butir riak air yang terbang bersama angin. Kuturunkan kaki ini dan kusentuhkan setiap ujung jemariku pada sejuknya air. Kurasakan dan kunikmati segala sesuatu yang tersuguh begitu lengkap dan sempurnanya. Tak lama suaramu berbisik dengan lirih, “kau bisa merasakan indahnya senja kali ini kinan? Kau bisa rasakan teduhnya jingga yang terlukis di depan?”. Dengan penuh keyakinan aku menjawab, “tak hanya mampu aku merasakan, aku kini telah melihatnya dengan nyata J. Sungguh begitu jelas semuanya terlihat bagiku, tak kabur sedikitpun. Tak seperti dahulu hanya ada gelap dan sunyi.” Senyumku tersimpul dengan penuh keyakinan menatapnya.
                “kinan, kau pernah bermimpi bagaimana anugerah hadir dan menghapus gelapmu?” tanyanya. “Aku bermimpi? Bagiku tak ada mimpi yang jauh lebih indah dibanding yakinku kali ini, yakinku bahwa tanpa aku melihat segalanya gelapku telah menyingkir dan sunyiku telah sirna. Berjalan perlahan mundur dari duniaku  yang memang masih gelap ini. Mereka tergantikan oleh sebuah kekuatan bagaimana indera lainnya mampu melihat lebih tajam dan jelas dari pada mata.  Tak ada secuil nodapun kini yang menghalangi pandanganku melihat jingga senja, melihat kupu yang menari dengan anggunnya, melihat awan yang berarak, melihat daun yang berguguran, melihat air yang mengalir terbawa angin. Bahkan aku mampu melihat setiap titik-titik senyuman yang kau simpulkan. Melihat kebahagiaan yang kalian tulis untukku. Melihat semangat ayah, ibu, saudaraku, dan kau yang kalian hidangkan untukku setiap paginya. Namun, hanya satu yang tak nampak dari penglihatanku. Aku rindu melihat raut meremehkan dan belas kasihan orang-orang disekelilingku. Entah mengapa aku tak pernah melihatnya sama sekali sejak lima tahun lalu. Sejak mata dan penglihatanku diambil kembali oleh penciptanya.” Tak lama seketika menjadi hening! Hanya suara angin mengiringi nyanyian rindangnya daun yang kudengar.
                Kulihat kala itu, lelaki tampan itu tersenyum padaku dengan sepenuh cintanya. Memandangku tajam penuh keyakinan. Tak lama tangan halusnya mendekap rangkaian jemariku dengan erat. Dia terus tersenyum tanpa keraguan padaku menatapku semakin dalam lagi dan lagi. kemudian sebuah tanya klasik itu terlontar padaku. “Menurutmu, apakah cinta akan selalu hadir lewat perantara mata? Apakah tanpa kau melihat kau juga mampu merasakan cinta?” tanyanya tegas. “Arya, kau lihat diriku sekarang bukan? Apa tak kau lihat bagaimana mata ini terus terbuka namun hanya gelap yang menyapa? Tapi apakah kau kira aku merasakan kesunyian? Tidak Arya, aku masih seperti dahulu sebelum kejadian 5 tahun lalu hinggap padaku. Aku layaknya dia, ia, mereka, dan engkau! Yang melihat burung terbang, bunga berwarna, dan ikan berenang. Namun kau tahu, aku mengamatinya dengan hati tak mata. Aku menatapnya dengan rasa bukan mata pula. Aku memang tak dapat melihat arya, namun aku tak buta seperti yang kalian kira. Mata bukan jaminan untuk aku dapat menilaimu, bahkan tanpa matapun aku dapat memandang engkau yang begitu tampan ini. Bukan dari rupa semuanya tergambar, melainkan dari cinta yang kau tebar untukku. Lantas kau takut aku akan mempermasalahkan soal rupa kepadamu? Tenang saja aku hanya si buta, yang kini tengah merangkak untuk membaca sebuah kata yang bermakna cinta” jawabku.
                Senja itu rasanya aku tengah dihujami beberapa tanya yang berentet dari hatinya. aku ragu, jika ia juga menatapku tanpa memandang rupa, aku takut ia tak mempercayai aku si buta. Aku takut ia hanya menganggapku berbohong dan pura-pura bahagia. Namun ketakutanku kembali terbantah ketika ian menyampaikan sepotong cerita padaku. Malam itu, ia berjalan mengikuti seorang gadis yang terburu-buru menapaki sudut kecil kota. Gadis itu biasa ia amati, Ia berangkat menuju arah yang sama dengannya dan pulang menuju peraduan yang sama pula arahnya. Ia memandang gadis itu dari kejauahan saat ia dahulu tiba di kantornya. Malam itu, sang  gadis nampak gelisah, Ia nampak begitu lelah, tak bersemangat, jilbabnyapun terlihat kusam dan pucat tak sepeti biasa. Tak jauh dari jaraknya gadis berjalan, ia terus mengikuti setiap langkah ketakutan sang gadis. Seketika ia berhenti, ketika sebuah takdir merubah kehidupan sang gadis. Ia melihat gadis itu tergolek tak berdaya, serpihan kaca terpental kemana-mana. Sebuah mobil telah menghatam mobil lainnya, begitu dekat dengan tubuh gadis itu. Sang gadis hanya bisa terkapar dan tersenyum, lalu menangis merintihkan tetesan merah air matanya. Arya berkata padaku, sejak malam itu ia  melihat bagaimana sebuah cinta itu hinggap dan mendekap pada dirinya. Arya merasa berat menerima bahwa senyum itu tak mampu terpancar terang seperti sebelum kejadian itu terjadi. Namun, semakin lama keterbatasan menjadi bagian pada diri sang gadis, semakin berat pula rasa cinta Arya. Dia berjanji akan terus mencintainya hingga detik terkahirnya. Gadis itu yang sekarang tengah duduk berdampingan dengannya, gadis yang selama ini ia amati geriknya. Gadis itu yang membakar semangat Arya, dan gadis itu yang saat ini menitikkan air mata di depannya.
                Benarkah itu aku? Semua tanyaku membumbung. Keraguanku menguasai seluruh gerakku. Jemari tak mampu berhenti bergerak dan hatiku seketika ikut gelap. Kegelisahanku ternyata mudah terbaca baginya,  ia mengangkat tangan kananku dan melingkarkar sebuah janji dan keseriusan untuk menjadi pelukis bagiku. Ia bertanya, “Kinan, ketika Tuhan memberi sepasang penglihatan lagi bagimu, apakah kau akan terus ingin membiarkan cintaku ini melingkar pada jarimu?”. “Aku takkan pernah tahu kapan Tuhan memberikannya padaku kembali Arya. Bagiku saat ini hatiku sudah cukup tajam menatapmu. Sudah cukup jelas dan nyata aku merasakan sebuah cinta yang sama sepertimu. Tak ada rupa yang mampu menyaingi sebuah ketulusan. Andai aku dapat melihat kembali, tidak akan ada lain ketampanan yang mampu menggelapkan cintaku. Arya, kau ingin antarkan aku pulang sekarang? Jingganya telah hilang dan panggilan Tuhan akan segera datang”.
***
                Setelah pertemuan itu, Arya lama tak menjengukku. Hampir 1 bulan ini ia membiarkanku berlari sendiri tanpa sapanya. Aku kehilangan semua yang biasa kudapat darinya. Hanya cincin ini yang melingkar dan sebuah pernyataan yang menutup pertemuanku dengannya sore itu. “Boleh aku menjadi perantara Tuhan untuk mengembalikan pandanganmu kembali kinan? Kau tak perlu menjawab, cukup dengan kau bersabar menantiku ketika aku hilang.” Hanya pesan itu yang aku ingat darinya sebelum Arya tak kembali hadir dalam kisahku.
                Tak cukup satu bulan baginya, hingga suatu hari kukenakan kerudungku dengan sederhana. Kurebahkan badan pada sebuah ranjang diruangan dingin itu. Kembali kurasa senyum-senyum pengharapan itu memberiku semangat. Namun, tak ada Arya menjadi salah satunya. Dingin, begitu dingin hitamku hari ini. Hari dimana sebuah keputusan besar akan terjadi, hitamku akan menjadi nyata selamanya atau warna-warni lain menepis hitamku. Aku menunggumu Arya, menunggu engkau yang siap mewarnai hidupku saat Tuhan mengembalikan mataku.
                Hari ini tentunya menjadi penentuan terpenting dalam hidupku. Gelap atau terang setelah ini akan menjadi bagian hidupku. Aku yakin saat ini kerudung hitam yang paling setia memelukku dalam sunyi. Dan akan kulihat kembali warna hitamnya dengan nyata. Perlahan-lahan, selapis demi lapis tersingkirkan dari pandanganku. Semakin putih, semakin terang, dan semakin nyata cahaya yang hadir. Saat mereka berkata bukalah, samar kemudian semakin jelas apa yang telah lama tak pandang. Yah, itu senyum yang selama ini aku lihat lewat rasa. Itu senyum ayahku, ibuku, kakakku, dan kedua adik kembarku. Mereka tersenyum bersama tangis bahagianya. Kulihat jelas mereka mendekat dan memelukku dengan erat. Tuhan, kau kembalikan mataku dengan keadaan yang tak berbeda dari sebelumnya. Namun, mengapa sosok itu tak kembali ada disni saat aku mendapat hadiah dari Tuhan. Lantas, janjinya saat itu untuk menjadi perantara dan mencintai sang gadis buta hingga akhir detiknya? Aku hanya merunduk sebentar dan kemudian tawa keluargaku melunturkan segalanya. Hello dunia, kau siap kembali kugambarkan dalam cerita.
***
                Genap satu bulan kumenunggu hadirnya di danau ini. Sudah ribuan lembar kertas kuhanyutkan bersama ceritaku. Arya, apa kau ragu akan semua ucapanku saat itu? Apakah semua yang kukisahkan bersamamu mengandung dusta sehingga kau tak percaya? Lekaslah berbalik dan akan kuperlihatkan bahwa hatiku tak pernah salah memandang. Arya, aku sekarang mampu melihat warna. Aku sekarang paham bahwa kerudungku tak berwarna hitam. Sekarang aku paham betapa luar biasanya senja itu berwarna jingga, Fajar itu menghadiahkan emas, dan daun itu akan tetap indah dengan warna coklatnya saat merebah pada tanah. Namun, satu hal yang belum mampu kupenuhi saat ini, aku tetap tak dapat melihat mereka yang menertawakan dan meremehkanku.
                Kupandang kembali janji yang sudah terlanjur kau lingkarkan di jari manisku ini. Kulihat kembali detik jam yang berputar sesuai takdir butaku berlalu. Pagi ini dan setiap paginya aku tetap melakukan kebiasaanku duduk di beranda rumahku. Tak ada yang berbeda antara sekarang dan saat dulu. Tunggu, tentu berbeda sekali tanpa senyuman yang menyapaku setiap paginya. Sudah lama sekali rasanya aku menantikan sapa hangat dan memberi semangat darinya. Sejakku mendapat hadiah indah ini ia justru tak terlihat, tak nampak, dan tak kurasa.
                Satu tahun berlalu, aku benar-benar mampu menghapus kerinduanku. Aku telah mampu berjalan tanpa harus digenggam tanganku. Aku kembali kepada aktivitasku, menjadi salah satu editor di perusahaan percetakan nasional. Tak hanya itu, aku juga telah mampu membukukan cerita-ceitaku dalam jillid-jilid kisah. Satu rindu yang tak terobati dan semakin mengental. Menuliskan setiap pengalaman, semangat, senyuman, dan kehebatanmu di lembar-lembar kertas kosong. Aku terus mendoakan setiap kerinduanku yang akan  menjadi nyata pada pertemuan antara engkau dan dia. Arya, kau tak merasa rindu? Engkau lelah atau mengalah? Yang pasti kau jahat membiarkanku berjuang dan melangkah sendiri dalam penantian.
                Pagi ini, begitu teduh udara menyapa. Angin menari bersama ribuan daun, kesana kemari hingga akhirnya yang layu gugur dengan anggun. Sang surya menyeruak bersama kehangatan kicauan burung. Aku memandang lurus pagi ini tanpa berbelok. Kemudian aku menunduk dan meratapi sebuah kisah yang tak kunjung berakhir pada pertemuan. Apakah mungkin aku boleh berhenti menunggunya saat ini? Membuka hati dan melepas lingkaran janjimu. Aku menatap kembali dan kulihat sosok yang lama tak kuliahat. Tampak samar namun aku begitu kenal dengannya. Kuihat dengan jelas kali ini, senyumnya mendarat pada sebagian senyumku. Ia berjalan dengan gagak mengenakan jas putih itu, lebih dekat dan lebih hangat. Lebih dekat dan lebih mendekat dengan erat tawanya. Sorot matanya tajam, seakan mengisyaratkan cinta padaku. tutur sapanya halus seakan memaksaku mengingat identitasnya. Sekarang ia didepanku, menghadapku dan menyapaku. “Hai kinan, kau ingat dengan seluruh senyum lelaki ini? Apa warna jilbabmu hari ini? Masih hitamkah menurutmu? Bagiku jilbabmu telah berwarna.” Aku hanya diam dan semuanya berlalu pada cahaya matahari yang bercumbu melepas rindu. Terimakasih lelaki yang sudah berjuang begitu jauh untuk membuatku mampu melihatnya. “Aku Arya, yang tak pernah akan meninggalkanmu hanya saja tengah berjuang untuk melihat sosok indahmu. Terimakasih Kinan, tak salah semua batu yang menghalangi kakiku untuk melihat pelangi secantik kamu.

                “Arya, kau tau? Aku tak pernah menginginkan mata ini untuk mampu menatapmu. Aku tak pernah menginginkan tangan ini mengenggam tanganmu. Aku tak ingin badan ini memeluk tubuhmu. Aku tak ingin bibir ini mengucap cinta padamu. Aku hanya ingin terus mencintamu meski mata ini tak dapat melihat, bibir ini tak mampu berucap, tangan ini tak mampu bergerak, dan badan ini tak mampu mendekap. Yang aku tahu, mencintaimu itu sederhana, cukup hatiku yang melakukan segalanya maka kau telah memilikiku seutuhnya. Terimakasih Arya, hatiku telah lumpuh dan tak mampu lagi bergerak menjauh dari cintamu.”