Hai senja, kali ini engkau tetap mengawang bersama
kisah dan cintaku bersama “DIA”
Senja, hari ini engkau berangkat menuju
peraduanmu bersama rangkaian kisah yang mulai menyatu menjadi satu cerita.
Negeri ini memang hangat sekali, menyatu bersama jinggamu yang begitu hangat.
sehangat kisahku yang kulukis dari sudut kota ini. Sore ini engkau
mengantarkanku menuju sebuah perjalanan yang sebut saja itu petualanganku.
Menjajaki setiap sisi hati yang mulai sulit kujelaskan kini apa maksudnya.
Memaknai setiap senyuman dan kegilaan
yang hadir tertiup angin, kemudian masuk dan merasuk kedalam pori-pori hatiku.
Tak lama menjulang tinggi dan kokoh bermain bersama tawaku, kagumku, dan
cintaku untukmu.
Panggil
saja itu aku, yang kini tengah bermain dalam sebuah lingkaran tawa dari sudut
bibirmu. Mengamati setiap gerak dan getar mulutmu yang menari hingga aku lupa
diri. Menghayati setiap ucap dan isyarat dari ecap gerak badanmu. Hingga
akhirnya semuanya itu pecah dan melukiskan sebuah gelak tawa setiap manusia
disekitarnya. Dan aku tak pernah luput menjadi sebagian kecil lukisan tawamu
itu. Rasanya aku masih sama seperti mereka, berada pada sebagian sisi pandangmu
yang mungkin tak sempat engkau padang kala kebersamaan kita tersuguh bersama
secangkir tawa. Tapi aku yakin, begitu luar biasa setiap pandang tak sengajamu
itu mengarah tepat berada pada tengah mataku, tepatnya mata hatiku.
Kita
mulai saja dongengnya, masih sama seperti lainnya. Cerita di sebuah negeri
fantasi penuh dengan drama cinta yang mengalun begitu harmonis bersama alunan
kisah-kisah misteri dan akan selalu berakhir bahagia. Rasanya kali ini tidak,
dongengku takkan berakhir hingga suatu masa nyata akan menghapus setiap cerita
menjadi kisah yang sesungguhnya. Aku tak sengaja terlahir dan hidup dalam
sebuah lingkar cerita yang telah tersusun rapi. Kisah yang telah Tuhan tuliskan
bersama setiap sembusan nyawa, DIA sisipkan bersama takdir-takdir yang terus
berkata. Berada dikota orang bukan hal yang mudah untuk tetap bertahan, hanya
saja Tuhan begitu anggun membuat kesulitanku menjadi tawa bersama Dia dan mereka lainnya. Tak sulit pula
aku nyaman dengan tempat ini, terutama berada pada situasi yang membingungkan.
Harus
kumulai dari mana kisah ini kutulis, sebab tak ada yang memulai hati ini untuk
mengagumimu. Baiklah, aku ingat kisah ini dimulai dari sebuah kesempatan untuk
memilih dan hingga suatu hari aku terpilih untuk menjadi salah satu orang yang
berada di perguruan tinggi ini. saat itulah pula kisah ini bermain bersama
kenyataan bahwa aku resmi menjadi anak rantau yang mengecap rumah hanya dalam waktu
satu setengah bulan dalam satu semesternya. Menjadi salah seorang pendatang
yang mau saja terdampar dipulau dengan begitu banyak karakter manusia. Aku
ingat awal aku menatapmu, melihatmu, dan memandangmu. Kala itu sebuah test
untuk masuk kesebuah kelas bersama manusia-manusia luar biasa telah
berlangsung. Saat kujajaki setiap tangga menuju lantai yang hingga sekarang
begitu menguras tenagaku untuk mencapainya. Dipenghujung langkahku, tampak
seorang lelaki yang terlihat begitu berbeda dari lainnya.
Awalnya
aku tak pernah untuk bermimpi untuk menyukainya, bahkan nyaman dengan setiap
kegilaannya. Apa lebihnya ia dari lainnya, dia bisa saja, tak menarik, tak
memukau, tak membuatku beranjak menyinggungnya saat pembicaraan kami. Semua
berjalan biasa, petualangan, perjalanan hingga kebersamaan bersama mereka dan
ia yang menjadi salah satunya tetap tak menyinggung sedikit hatiku. Apa
menariknya dia? Hanya saja ia pernah menarik salah satu dari rekanku untuk
menjadi kisahnya. Tawanya masih sama dingin bagiku, hambar untukku. Hanya sebuah
lelucon yang kemudian aku ikut tertawa dan terlarut dalam eratnya kita. Hingga
suatu saat ketika waktu telah memberiku sebuah rasa, yang berbeda dan aku benci
dengan semua hal ini.
Aku
terbangun bersama sebuah dongen dan Kini aku bermimpi, bagaimana menjadi
seseorang yang spesial untukmu sahabatku sendiri. Aku bermimpi bagaimana setiap
candaku menjadi hidup bersama tawamu, candaku
terasa manis bersama senyummu, dan candaku hangat bersama candamu pula. Aku
kini menatapmu seseorang biasa menjadi luar biasa karena setiap tingkah
konyolmu, kegilaan yang memalukan itu, dan setiap ucap yang mengecap begitu
bermakna untukku. Aku kini bermimpi mendapat sebuah obat pengabul dari setiap
kata asal yang kita rangkai menjadi rencana masa depan. Aku bermimpi bersama dongen ini aku
mampu menjadi sesuatu yang mampu menarik hatimu, rasamu, dan cintamu untukku
yang tak semenarik mereka, ia, atau dia. Aku bermimpi sekarang mampu menjadi
pendengarmu selalu setiap detiknya, menjadi seseorang yang menikmati senyummu
dengan nyata dan tanpa berpura-pura. Aku bermimpi jika suatu saat aku tersenyum
melihatmu tersenyum karena berada didekatku bukan tersenyum melihat engkau
tersenyum kala bersamanya. Dan aku kini bermimpi menjadi bagian setiap sudut
kebahagiaanmu selamanya.
Kini
kita telah melingkar bersama kebahagiaan kita, bersama kebahagiaan yang
sempurna. Antara aku, kamu, dia,dia,dia, dia dan mereka semua yang sama-sama
berjuang di ranah ini. kita tengah duduk melingkari sebuah meja bersama
tawa-tawa kita yang menghangat bersama secangkir tawa, masing-masing dari kita
menyeruputnya dan menikmati semua mimpi-mimpi kita. Dan aku, hanya tersudut
menjadi bagian pengagum kegilaanmu yang kini terus berdoa, semoga suatu masa
nyata akan mengapus kisah dongengku menjadi akhir yang bahagia.
Untukmu
yang selalu kuamati geriknya diatara mereka lainnya. Salam sayang dariku yang
tervonis to be like you J menyayangimu
mimpi-mimpi negeri dongengku.
