Saat Hatiku Mampu Lebih Jelas Memandang
Oleh: Mugi Lestari
Aku
kinan, sudah lebih dari 5 tahun lalu aku mengamati sosok gagah yang senantiasa
tersenyum kala melewati pelataran rumahku. Aku terus mengamati senyum itu yang
menyejukkan. Aku terus memahamin setiap gerik bibirnya yang melengkung begitu
sempurna. Lelaki itu bernama Arya, rumahnya tak jauh dari rumahku. Sudah sejak
kecil kita saling tahu, namun baru akhir ini aku berani mengenalnya. Entah
mengapa setiap pagi ia selalu menyapaku dengan senyumnya saat aku duduk di
beranda rumahku. Ia tampan, tubuhnya tinggi tegap, kulitnya putih menyejukkan,
matanya tajam memikat hati, dan rambutnya yang hitam terpapar rapi. Tak jarang
ia menyapaku dengan kehangatan, “Hai kinan, Berbahagialah hari ini” ditutuplah
sapa itu dengan senyumnya yang menyejukkan.
Hidupkku
tak banyak berwarna, hanya saja setiap paginya kutemui senyum-senyum baru yang
menyapaku. Senyum-senyum hangat yang selalu mendekapku dengan nyata. Ayah, ibu,
kakak, dan adik kembarku yang melukiskan tawa saat aku hampir behenti tertawa.
Satu lagi, senyum itu yang hadir setiap paginya yang memberikan kenyamanan
sesungguhnya. Aku hanya seorang gadis berkerudung hitam. Setiap harinya tak ada
warna lain kecuali hitam ini yang kupakai. Entah mengapa sejak 5 tahun lalu aku
begitu menyukai dan jatuh cinta dengan warna ini, warna yang hingga kini aku
cintai dan menjadi bagian dari hidupku.
Kinan,
sebuah nama indah yang tersanding bersama doa dan harapan orang tua. Putri
Kinan Senja Kemuning, kado terindah yang pertama kali kuterima dari ayah dan
ibuku. Kado yang menjadi sebuah penyemangat dan titik puncak yang harus kuraih.
Nama yang membentukku untuk menjadi seorang putri tanggung bak kokohnya karang
terhempas ombak, teduh bak lembayung
senja, mewah bermahkotakan cahaya emas saat surya beranjak dari tidurnya, dan
anggun bak kapas yang menari pada savana. Ringan dan tak mudah didapatkan.
Pagi
itu, tak kulihat senyum itu lewat kemudian menyapa. Kutunggu beberapa waktu
kudengar sebuah langkah menuju beranda rumahku. Mendekat dan kian menghangat
kurasa senyumnya. Semakin dekat hingga sapanya tepat berada di depanku
“Assalamuallaikum kinan, kau menungguku?”. “wa’allaikum salam” sautku bersama
senyuman untuk menjawab tanyanya. Tanya dan obrolah hangat itu belanjut mengiringi
jawab senyumku itu. Secangkir kehangatan yang menyuguhkan manis, pahit, dan
asam mencairkan penasaran. Tak lama bagiku waktu yang kita habiskan bersama,
hanya selama minuman dalam cangkir itu habis. Kata terakhir yang ia sebut, “tetaplah
menjadi kamu dan katakan padaku yang kau rindu saat ini, akan kupenuhi minggu
depan pada waktu yang sama.” Aku menjawab, “aku rindu duduk diatas sebuah
sepedah yang merasuk bersama udara sejuk senja. Kau bisa mempertemukanku dengan
kerinduan itu?”. Dia hanya menjawab dengan senyum dan sebuah kalimat penutup
“percayalah, kau akan mendapatkan keindahan seindah dirimu. Aku takkan
membiarkanmu menikmati semuanya sendiri”.
Dunia,
hari ini tiba-tiba terasa begitu berharga. Aku kembali memberanikan diri
mengambil kuas dan menorehkannya pada sebuah kanvas putih itu. Melukis sebuah
keindahan yang terdiri dari ribuan warna. Sudah lama aku menunggu masa ini,
dimana aku dapat menari, bernyanyi, dan berlari bersama warna-warna pelangi.
Hariku semakin terasa hangat dan Semakin lengkap saat senyum teduhnya
merangkulku semakin erat. “Arya, tak sabar aku menunggu hari dan waktu yang kau
janjikan. Hari dimana sebuah kerinduanku terobati oleh sebuah kenyataan.
Terimakasih Arya atas janji itu”.
Arya,
kau tau bagaimana aku melewati semua hariku menuju minggu yang akan datang.
Semakin semangat aku duduk dan menjawab sapamu di beranda itu. Kulihat semangat
tak pantang menyerah menyeruak pada paras tampanmu. Aku semakin teristimewa
dengan warna hitam yang setia melekat ini. Tapi, kali ini sungguh berbeda.
Hitamku terlihat lebih bercahaya, berkilau, memantulkan warna. Hitamku kini
semakin anggun dengan secangkir senyumku tersuguh bersama sepotong senyummu.
Arya, senyummu terus hadir tak dalam nyataku saja, tetapi kurasa pula dalam
doaku.
***
Pagi
itu sesuai janjimu, kita bertemu dan duduk menyatukan kerinduan kita untuk
saling menyapa. Aku heran mengapa akhir-akhir ini hanya sebatas senyuman yang
mendarat pada pagiku. Dia nampak teburu-buru, sempat ia tak menolehku. Namun,
dalam diamku aku memanggilnya “Arya, menolehlah dan tularkan semangatmu itu”.
Ia menolehku dengan senyum teduhnya. Saat ia duduk dan menikmati seruputan
pertamanya, langsung kuhujami dia dengan berbagai tanya. “mengapa senyummu
minggu ini terkesan terburu-buru, apakah ada sesuatu yang terus kau kejar
hingga kau tergesah-gesah karena kau takut ia akan berlari?”. Senyum manisnya
menanggapi tanyaku, “tak ada yang perlu dikejar, jika yang kucari telah duduk
manis dihadapanku, menatapku, dan merasa cemburu atas ketidak perhatianku”.
Sontak aku kembali bertanya, “kali ini aku tak mampu memahami perkataanmu
barusan. Terlalu bermakna atau mungkin sulit dimaknai! Tolong jelaskan dan buat
aku tenang!”. Tak lama ia diam dan mencoba pertanyaanku. Tik tok seketika
suasana menjadi hening dan dingin. Aku takut tanyaku tadi telah menyentil
sedikit saraf rasanya. “mengapa kau diam Arya?”. Dan dia hanya menjawab “ada
masanya mahkota itu akan kusematkan padamu. Mahkota yang akan menjadi penerang
bagi kerudung hitammu”. Aku hanya tersipu dan menghayati setiap makna kata yang
dia suguhkan dalam kalimat cinta itu.
“Arya,
kau ingat dengan permintaanku minggu lalu?”, tanyaku. Dengan sigap ia menjawab,
“jelas saja, aku tidak akan melupakan suatu permintaan mulia ini. Aku punya
syarat untukmu! Jika kupenuhi pintamu minggu lalu, aku ingin kau telus
melontarkan pinta dan kerinduamu padaku.” “kau serius akan hal ini?” jawabku
ragu. “takkan ada alasan untuk tidak mengiyakan dan menyanggupi keinginan indah
itu. Takkan ada kata menolak untuk melukiskan senyuman pada kanvas ini.” Sore
itu begitu terasa menyenangkan. Kesejukan yang terpapar bersama teriknya surya.
Aku bebas, aku lepas, terhepas oleh angin-angin kerinduan. Angin yang mengobati
lukaku yang telah terkuak 5 tahun lalu. Terimakasih arya, kau telah membuat
yang tak mungkin bagiku menyadi nyata. Kau membuat yang tak bisa kulakukan saat
ini menjadi hal yang bisa. Kau membuat kakiku berlari dengan hati, dan menapaki
dunia dengan rasa. Aku berada di belakangmu, mendekapmu erat, berteriak lirih,
mengutarakan kebahagiaan dan ketakutanku. Semuanya menjadi satu, lengkap sudah
hari ini. Tak ada kebahagiaan sesempurna ini setelah kejadian itu terjadi.
Penghujung
senjaku, aku dan dia. Hanya dia dan aku duduk di sebuah kursi dingin, panjang, dan menghadap
kolam itu. Kami berbincang tentang bagaimana indahnya dunia. Kami berbincang
bagaimana mensyukuri setiap karunia yang Tuhan hantarkan melalui
malaikat-malaikat. Berbicara bagaimana tangan-tangan mulia itu menyentuh dan
menebarkan kebaikan kepada umat-umatNya. Kami mebincangkan segala sesuatu yang
telah lama tak kubagi kepada yang lainnya. Cerita yang aku simpan pada sebuah
kota yang tak kuusik sejak lama. Sejak aku tak mampu lagi menatap keindahan
dunia dengan nyata.
***
Kedekatan
ini semakin menghangat arya, kita semakin dekat dan erat. Semakin banyak
mimpi-mimpiku menjadi nyata. Semakin banyak kerinduanku yang terobati karenamu.
Semakin lengkap kebahagiaanku terlukis. Semakin banyak bahkan tak dapat
kuhitung rasa syukurku terucap. Arya, kau tau aku telah beruntung mengenal
lelaki sepertimu. Lelaki yang tak pernah berhenti tersenyu kepadaku. Lelaki
yang tak pernah berhenti mengajariku melengkungkan senyum layaknya kamu. Lelaki
yang tak mengenal lelah untuk membagi tawanya, bahagianya, dan anugerahnya
kepada wanita tak sempurna ini. Kau tau, hingga detik ini mengapa aku tetap
mampu menatap senyummu dengan jelas? Tentu saja, karena ketulusan dan
keihklasan senyum itu yang takkan berhenti mengalir dan bermuara pada hatiku.
Arya,
hari ini kau kembali membawaku berlari dengan kakiku. Kau genggam erat
tanganku, kau arahkan langkahku berlari lurus mengejar kupu-kupu yang terbang
kesana kemari. Kau tumpu tubuh yang hanya bisa merasa ini menuju sebuah senja.
Lembayungnya anggun menghias sebagian dari sisi danau itu. Kau menuntunku pada
ujung sebuah dermaga, kau persilahkanku untuk duduk dan menikmati setiap butir
riak air yang terbang bersama angin. Kuturunkan kaki ini dan kusentuhkan setiap
ujung jemariku pada sejuknya air. Kurasakan dan kunikmati segala sesuatu yang
tersuguh begitu lengkap dan sempurnanya. Tak lama suaramu berbisik dengan
lirih, “kau bisa merasakan indahnya senja kali ini kinan? Kau bisa rasakan
teduhnya jingga yang terlukis di depan?”. Dengan penuh keyakinan aku menjawab,
“tak hanya mampu aku merasakan, aku kini telah melihatnya dengan nyata J. Sungguh begitu jelas
semuanya terlihat bagiku, tak kabur sedikitpun. Tak seperti dahulu hanya ada
gelap dan sunyi.” Senyumku tersimpul dengan penuh keyakinan menatapnya.
“kinan,
kau pernah bermimpi bagaimana anugerah hadir dan menghapus gelapmu?” tanyanya.
“Aku bermimpi? Bagiku tak ada mimpi yang jauh lebih indah dibanding yakinku
kali ini, yakinku bahwa tanpa aku melihat segalanya gelapku telah menyingkir
dan sunyiku telah sirna. Berjalan perlahan mundur dari duniaku yang memang masih gelap ini. Mereka
tergantikan oleh sebuah kekuatan bagaimana indera lainnya mampu melihat lebih
tajam dan jelas dari pada mata. Tak ada
secuil nodapun kini yang menghalangi pandanganku melihat jingga senja, melihat
kupu yang menari dengan anggunnya, melihat awan yang berarak, melihat daun yang
berguguran, melihat air yang mengalir terbawa angin. Bahkan aku mampu melihat
setiap titik-titik senyuman yang kau simpulkan. Melihat kebahagiaan yang kalian
tulis untukku. Melihat semangat ayah, ibu, saudaraku, dan kau yang kalian
hidangkan untukku setiap paginya. Namun, hanya satu yang tak nampak dari
penglihatanku. Aku rindu melihat raut meremehkan dan belas kasihan orang-orang
disekelilingku. Entah mengapa aku tak pernah melihatnya sama sekali sejak lima
tahun lalu. Sejak mata dan penglihatanku diambil kembali oleh penciptanya.” Tak
lama seketika menjadi hening! Hanya suara angin mengiringi nyanyian rindangnya
daun yang kudengar.
Kulihat
kala itu, lelaki tampan itu tersenyum padaku dengan sepenuh cintanya.
Memandangku tajam penuh keyakinan. Tak lama tangan halusnya mendekap rangkaian
jemariku dengan erat. Dia terus tersenyum tanpa keraguan padaku menatapku
semakin dalam lagi dan lagi. kemudian sebuah tanya klasik itu terlontar padaku.
“Menurutmu, apakah cinta akan selalu hadir lewat perantara mata? Apakah tanpa
kau melihat kau juga mampu merasakan cinta?” tanyanya tegas. “Arya, kau lihat
diriku sekarang bukan? Apa tak kau lihat bagaimana mata ini terus terbuka namun
hanya gelap yang menyapa? Tapi apakah kau kira aku merasakan kesunyian? Tidak
Arya, aku masih seperti dahulu sebelum kejadian 5 tahun lalu hinggap padaku.
Aku layaknya dia, ia, mereka, dan engkau! Yang melihat burung terbang, bunga
berwarna, dan ikan berenang. Namun kau tahu, aku mengamatinya dengan hati tak
mata. Aku menatapnya dengan rasa bukan mata pula. Aku memang tak dapat melihat
arya, namun aku tak buta seperti yang kalian kira. Mata bukan jaminan untuk aku
dapat menilaimu, bahkan tanpa matapun aku dapat memandang engkau yang begitu
tampan ini. Bukan dari rupa semuanya tergambar, melainkan dari cinta yang kau
tebar untukku. Lantas kau takut aku akan mempermasalahkan soal rupa kepadamu?
Tenang saja aku hanya si buta, yang kini tengah merangkak untuk membaca sebuah
kata yang bermakna cinta” jawabku.
Senja
itu rasanya aku tengah dihujami beberapa tanya yang berentet dari hatinya. aku
ragu, jika ia juga menatapku tanpa memandang rupa, aku takut ia tak mempercayai
aku si buta. Aku takut ia hanya menganggapku berbohong dan pura-pura bahagia.
Namun ketakutanku kembali terbantah ketika ian menyampaikan sepotong cerita padaku.
Malam itu, ia berjalan mengikuti seorang gadis yang terburu-buru menapaki sudut
kecil kota. Gadis itu biasa ia amati, Ia berangkat menuju arah yang sama
dengannya dan pulang menuju peraduan yang sama pula arahnya. Ia memandang gadis
itu dari kejauahan saat ia dahulu tiba di kantornya. Malam itu, sang gadis nampak gelisah, Ia nampak begitu lelah, tak
bersemangat, jilbabnyapun terlihat kusam dan pucat tak sepeti biasa. Tak jauh
dari jaraknya gadis berjalan, ia terus mengikuti setiap langkah ketakutan sang
gadis. Seketika ia berhenti, ketika sebuah takdir merubah kehidupan sang gadis.
Ia melihat gadis itu tergolek tak berdaya, serpihan kaca terpental kemana-mana.
Sebuah mobil telah menghatam mobil lainnya, begitu dekat dengan tubuh gadis
itu. Sang gadis hanya bisa terkapar dan tersenyum, lalu menangis merintihkan
tetesan merah air matanya. Arya berkata padaku, sejak malam itu ia melihat bagaimana sebuah cinta itu hinggap
dan mendekap pada dirinya. Arya merasa berat menerima bahwa senyum itu tak
mampu terpancar terang seperti sebelum kejadian itu terjadi. Namun, semakin
lama keterbatasan menjadi bagian pada diri sang gadis, semakin berat pula rasa
cinta Arya. Dia berjanji akan terus mencintainya hingga detik terkahirnya.
Gadis itu yang sekarang tengah duduk berdampingan dengannya, gadis yang selama
ini ia amati geriknya. Gadis itu yang membakar semangat Arya, dan gadis itu yang
saat ini menitikkan air mata di depannya.
Benarkah
itu aku? Semua tanyaku membumbung. Keraguanku menguasai seluruh gerakku. Jemari
tak mampu berhenti bergerak dan hatiku seketika ikut gelap. Kegelisahanku
ternyata mudah terbaca baginya, ia
mengangkat tangan kananku dan melingkarkar sebuah janji dan keseriusan untuk menjadi
pelukis bagiku. Ia bertanya, “Kinan, ketika Tuhan memberi sepasang penglihatan
lagi bagimu, apakah kau akan terus ingin membiarkan cintaku ini melingkar pada
jarimu?”. “Aku takkan pernah tahu kapan Tuhan memberikannya padaku kembali
Arya. Bagiku saat ini hatiku sudah cukup tajam menatapmu. Sudah cukup jelas dan
nyata aku merasakan sebuah cinta yang sama sepertimu. Tak ada rupa yang mampu
menyaingi sebuah ketulusan. Andai aku dapat melihat kembali, tidak akan ada
lain ketampanan yang mampu menggelapkan cintaku. Arya, kau ingin antarkan aku
pulang sekarang? Jingganya telah hilang dan panggilan Tuhan akan segera
datang”.
***
Setelah
pertemuan itu, Arya lama tak menjengukku. Hampir 1 bulan ini ia membiarkanku
berlari sendiri tanpa sapanya. Aku kehilangan semua yang biasa kudapat darinya.
Hanya cincin ini yang melingkar dan sebuah pernyataan yang menutup pertemuanku
dengannya sore itu. “Boleh aku menjadi perantara Tuhan untuk mengembalikan
pandanganmu kembali kinan? Kau tak perlu menjawab, cukup dengan kau bersabar
menantiku ketika aku hilang.” Hanya pesan itu yang aku ingat darinya sebelum
Arya tak kembali hadir dalam kisahku.
Tak
cukup satu bulan baginya, hingga suatu hari kukenakan kerudungku dengan
sederhana. Kurebahkan badan pada sebuah ranjang diruangan dingin itu. Kembali
kurasa senyum-senyum pengharapan itu memberiku semangat. Namun, tak ada Arya
menjadi salah satunya. Dingin, begitu dingin hitamku hari ini. Hari dimana
sebuah keputusan besar akan terjadi, hitamku akan menjadi nyata selamanya atau
warna-warni lain menepis hitamku. Aku menunggumu Arya, menunggu engkau yang
siap mewarnai hidupku saat Tuhan mengembalikan mataku.
Hari
ini tentunya menjadi penentuan terpenting dalam hidupku. Gelap atau terang
setelah ini akan menjadi bagian hidupku. Aku yakin saat ini kerudung hitam yang
paling setia memelukku dalam sunyi. Dan akan kulihat kembali warna hitamnya
dengan nyata. Perlahan-lahan, selapis demi lapis tersingkirkan dari pandanganku.
Semakin putih, semakin terang, dan semakin nyata cahaya yang hadir. Saat mereka
berkata bukalah, samar kemudian semakin jelas apa yang telah lama tak pandang.
Yah, itu senyum yang selama ini aku lihat lewat rasa. Itu senyum ayahku, ibuku,
kakakku, dan kedua adik kembarku. Mereka tersenyum bersama tangis bahagianya.
Kulihat jelas mereka mendekat dan memelukku dengan erat. Tuhan, kau kembalikan
mataku dengan keadaan yang tak berbeda dari sebelumnya. Namun, mengapa sosok
itu tak kembali ada disni saat aku mendapat hadiah dari Tuhan. Lantas, janjinya
saat itu untuk menjadi perantara dan mencintai sang gadis buta hingga akhir
detiknya? Aku hanya merunduk sebentar dan kemudian tawa keluargaku melunturkan
segalanya. Hello dunia, kau siap kembali kugambarkan dalam cerita.
***
Genap
satu bulan kumenunggu hadirnya di danau ini. Sudah ribuan lembar kertas
kuhanyutkan bersama ceritaku. Arya, apa kau ragu akan semua ucapanku saat itu?
Apakah semua yang kukisahkan bersamamu mengandung dusta sehingga kau tak
percaya? Lekaslah berbalik dan akan kuperlihatkan bahwa hatiku tak pernah salah
memandang. Arya, aku sekarang mampu melihat warna. Aku sekarang paham bahwa
kerudungku tak berwarna hitam. Sekarang aku paham betapa luar biasanya senja
itu berwarna jingga, Fajar itu menghadiahkan emas, dan daun itu akan tetap
indah dengan warna coklatnya saat merebah pada tanah. Namun, satu hal yang
belum mampu kupenuhi saat ini, aku tetap tak dapat melihat mereka yang
menertawakan dan meremehkanku.
Kupandang
kembali janji yang sudah terlanjur kau lingkarkan di jari manisku ini. Kulihat
kembali detik jam yang berputar sesuai takdir butaku berlalu. Pagi ini dan
setiap paginya aku tetap melakukan kebiasaanku duduk di beranda rumahku. Tak
ada yang berbeda antara sekarang dan saat dulu. Tunggu, tentu berbeda sekali
tanpa senyuman yang menyapaku setiap paginya. Sudah lama sekali rasanya aku
menantikan sapa hangat dan memberi semangat darinya. Sejakku mendapat hadiah
indah ini ia justru tak terlihat, tak nampak, dan tak kurasa.
Satu
tahun berlalu, aku benar-benar mampu menghapus kerinduanku. Aku telah mampu
berjalan tanpa harus digenggam tanganku. Aku kembali kepada aktivitasku,
menjadi salah satu editor di perusahaan percetakan nasional. Tak hanya itu, aku
juga telah mampu membukukan cerita-ceitaku dalam jillid-jilid kisah. Satu rindu
yang tak terobati dan semakin mengental. Menuliskan setiap pengalaman,
semangat, senyuman, dan kehebatanmu di lembar-lembar kertas kosong. Aku terus
mendoakan setiap kerinduanku yang akan
menjadi nyata pada pertemuan antara engkau dan dia. Arya, kau tak merasa
rindu? Engkau lelah atau mengalah? Yang pasti kau jahat membiarkanku berjuang
dan melangkah sendiri dalam penantian.
Pagi
ini, begitu teduh udara menyapa. Angin menari bersama ribuan daun, kesana
kemari hingga akhirnya yang layu gugur dengan anggun. Sang surya menyeruak
bersama kehangatan kicauan burung. Aku memandang lurus pagi ini tanpa berbelok.
Kemudian aku menunduk dan meratapi sebuah kisah yang tak kunjung berakhir pada
pertemuan. Apakah mungkin aku boleh berhenti menunggunya saat ini? Membuka hati
dan melepas lingkaran janjimu. Aku menatap kembali dan kulihat sosok yang lama
tak kuliahat. Tampak samar namun aku begitu kenal dengannya. Kuihat dengan
jelas kali ini, senyumnya mendarat pada sebagian senyumku. Ia berjalan dengan
gagak mengenakan jas putih itu, lebih dekat dan lebih hangat. Lebih dekat dan
lebih mendekat dengan erat tawanya. Sorot matanya tajam, seakan mengisyaratkan
cinta padaku. tutur sapanya halus seakan memaksaku mengingat identitasnya.
Sekarang ia didepanku, menghadapku dan menyapaku. “Hai kinan, kau ingat dengan
seluruh senyum lelaki ini? Apa warna jilbabmu hari ini? Masih hitamkah
menurutmu? Bagiku jilbabmu telah berwarna.” Aku hanya diam dan semuanya berlalu
pada cahaya matahari yang bercumbu melepas rindu. Terimakasih lelaki yang
sudah berjuang begitu jauh untuk membuatku mampu melihatnya. “Aku Arya, yang
tak pernah akan meninggalkanmu hanya saja tengah berjuang untuk melihat sosok
indahmu. Terimakasih Kinan, tak salah semua batu yang menghalangi kakiku untuk
melihat pelangi secantik kamu.
“Arya, kau tau?
Aku tak pernah menginginkan mata ini untuk mampu menatapmu. Aku tak pernah
menginginkan tangan ini mengenggam tanganmu. Aku tak ingin badan ini memeluk
tubuhmu. Aku tak ingin bibir ini mengucap cinta padamu. Aku hanya ingin terus
mencintamu meski mata ini tak dapat melihat, bibir ini tak mampu berucap,
tangan ini tak mampu bergerak, dan badan ini tak mampu mendekap. Yang aku tahu,
mencintaimu itu sederhana, cukup hatiku yang melakukan segalanya maka kau telah
memilikiku seutuhnya. Terimakasih Arya, hatiku telah lumpuh dan tak mampu lagi
bergerak menjauh dari cintamu.”