Rinai,
terimakasih hingga saat ini engkau masih setia berjalan mengiring langkahku.
Terimakasih hingga detik ini engkau masih sudi menjadi satu-satunya pendengar
kisahku. Menjadi sandaranku saat aku telah lelah dan tak mampu menegakkan
tubuhku yang semakin ringkih ini. Menjadi penghangat dinginnya cerita yang
sampai saat ini terus membeku oleh kerinduan. Menjadi teman setia saat aku
menikmati secangkir cokelat panas itu bersama tawa yang kulukis bersama kepalsuan.
Aku
dahulu begitu mengagumi sosok lelaki yang aneh, unik, dan cenderung freak itu. Bahkan hingga detik ini aku
masih terus menjadi pengamat setia dari setiap tingkal dan tawanya. Sebut saja
ia cinta yang aku biarkan tumbuh dan berbunga bersama setiap kebodohan yang aku
lakukan bersamanya. Aku sungguh mengaguminya, bahkan hingga detik ini aku belum
mampu menghapus kehangatan tawanya yang mendekapku begitu nyata. Hingga saat
ini pula aku takkan bisa menghilangkan sedekitpun kisah yang telah kita bingkai
bersama cerita. Hingga detik ini aku masih bersamanya tertawa menutupi
kebohongan rasa yang kian membumbung dan berat rasanya.
Telah
lama semuanya dilalui dengan beragam cerita. Sempat hatiku berhenti tepat pada
dirinya, tak ingin berlari, berjalan, bahkan melangkah satu jengkalpun pada
kenyamanan ini. Mungkin benar kata mereka, ada yang lebih bahaya dari sebuah
cinta, yaitu kenyamanan yang hadir tiba-tiba. Lantas setelah semuanya ini
terjadi, siapa yang patut untuk disalahkan? Tenang, aku tak menyalahkanmu
cinta. Masalah hati tak ada yang perlu disakiti disini. J
Aku
terus menapak semuanya sendiri meski aku berada di belakangmu dan mendekapmu
kala perjalanan cerita itu dimulai. Aku terus menggenggam hatimu, meskipun
engkau engan menggenggam hatiku. Banyak hal yang menjadi kesamaan diantara
kita. Bahkan, jika sesuatu yang paling kusuka dan aku begitu tak suka, aku
belajar menyukainya. Aku terus merangkul hadirmu, meski kutahu engkau takkan
pernah sadar bahwa aku siap menjadi titik yang menyuguhkan kebahagiaan bagimu
saat yang lain tak pernah ada untukmu.
Tak
pernah bosan dan lelah setiap kalinya aku selalu mendengar alunan-alunan
kisahmu bersama ia yang telah menjadi lalumu. Aku sempat menjadi ia yang begitu
kau cinta dengan alasan agar engkau bahagia. Bahkan aku rela berpura-pura
bahagia saat engkau menyadari sebera besar cintamu padanya. Aku rela bahwa rasa
ini akan terkubur bersama ceritamu dan cinta kepadanya.
Rinai,
penghujung senjamu membawa cerita yang berbeda kali ini. Aku kembali merasa
berharga mendaptkan sosok yang luar biasa itu. Menghangatkanku di ujung senja
bersama rindu-rindu yang merintik. Namun, percayalah bahwa hatiku ini tengan
ragu, ragu bahwa hatiku mampu menyingkirkan dia yang telah begitu lama berjalan
menjelajah kebahagiaan bersamaku. Aku ragu bahwa sosok yang baru mampu
benar-benar membuatku kembali jatuh cinta pada hati yang baru pertama kali
kutatap dengan nyata.
Yakinlah
rinai, aku tak meragukan kesiapannya untuk menjaga hatiku. Namun saja aku tak
percaya diri bahwa aku telah mampu beranjak dari cinta yang kutanam dalm diam
ini. Baiklah, aku akan gulirkan cerita yang berbeda pada penghujung musimmu. Akan
kurawat dan kujaga rasa baru yang hadir menghampiriku. Cukup diamku menutupi
segalanya tanpa hasil, cukup diamku menyimpan rapat cintaku dengannya. Aku menyerah
dan aku lelah dengan perjuangan yang curang ini. Rinai, boleh aku belajar
mencintai ia yang tengah mencintaiku kini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar