Senin, 24 November 2014

Sepotong cinta dalam secangkir tawa

Hai senja, kali ini engkau tetap mengawang bersama kisah dan cintaku bersama “DIA”

            Senja, hari ini engkau berangkat menuju peraduanmu bersama rangkaian kisah yang mulai menyatu menjadi satu cerita. Negeri ini memang hangat sekali, menyatu bersama jinggamu yang begitu hangat. sehangat kisahku yang kulukis dari sudut kota ini. Sore ini engkau mengantarkanku menuju sebuah perjalanan yang sebut saja itu petualanganku. Menjajaki setiap sisi hati yang mulai sulit kujelaskan kini apa maksudnya. Memaknai  setiap senyuman dan kegilaan yang hadir tertiup angin, kemudian masuk dan merasuk kedalam pori-pori hatiku. Tak lama menjulang tinggi dan kokoh bermain bersama tawaku, kagumku, dan cintaku untukmu.
            Panggil saja itu aku, yang kini tengah bermain dalam sebuah lingkaran tawa dari sudut bibirmu. Mengamati setiap gerak dan getar mulutmu yang menari hingga aku lupa diri. Menghayati setiap ucap dan isyarat dari ecap gerak badanmu. Hingga akhirnya semuanya itu pecah dan melukiskan sebuah gelak tawa setiap manusia disekitarnya. Dan aku tak pernah luput menjadi sebagian kecil lukisan tawamu itu. Rasanya aku masih sama seperti mereka, berada pada sebagian sisi pandangmu yang mungkin tak sempat engkau padang kala kebersamaan kita tersuguh bersama secangkir tawa. Tapi aku yakin, begitu luar biasa setiap pandang tak sengajamu itu mengarah tepat berada pada tengah mataku, tepatnya mata hatiku.
            Kita mulai saja dongengnya, masih sama seperti lainnya. Cerita di sebuah negeri fantasi penuh dengan drama cinta yang mengalun begitu harmonis bersama alunan kisah-kisah misteri dan akan selalu berakhir bahagia. Rasanya kali ini tidak, dongengku takkan berakhir hingga suatu masa nyata akan menghapus setiap cerita menjadi kisah yang sesungguhnya. Aku tak sengaja terlahir dan hidup dalam sebuah lingkar cerita yang telah tersusun rapi. Kisah yang telah Tuhan tuliskan bersama setiap sembusan nyawa, DIA sisipkan bersama takdir-takdir yang terus berkata. Berada dikota orang bukan hal yang mudah untuk tetap bertahan, hanya saja Tuhan begitu anggun membuat kesulitanku menjadi tawa bersama Dia dan mereka lainnya. Tak sulit pula aku nyaman dengan tempat ini, terutama berada pada situasi yang membingungkan.
            Harus kumulai dari mana kisah ini kutulis, sebab tak ada yang memulai hati ini untuk mengagumimu. Baiklah, aku ingat kisah ini dimulai dari sebuah kesempatan untuk memilih dan hingga suatu hari aku terpilih untuk menjadi salah satu orang yang berada di perguruan tinggi ini. saat itulah pula kisah ini bermain bersama kenyataan bahwa aku resmi menjadi anak rantau yang mengecap rumah hanya dalam waktu satu setengah bulan dalam satu semesternya. Menjadi salah seorang pendatang yang mau saja terdampar dipulau dengan begitu banyak karakter manusia. Aku ingat awal aku menatapmu, melihatmu, dan memandangmu. Kala itu sebuah test untuk masuk kesebuah kelas bersama manusia-manusia luar biasa telah berlangsung. Saat kujajaki setiap tangga menuju lantai yang hingga sekarang begitu menguras tenagaku untuk mencapainya. Dipenghujung langkahku, tampak seorang lelaki yang terlihat begitu berbeda dari lainnya.
            Awalnya aku tak pernah untuk bermimpi untuk menyukainya, bahkan nyaman dengan setiap kegilaannya. Apa lebihnya ia dari lainnya, dia bisa saja, tak menarik, tak memukau, tak membuatku beranjak menyinggungnya saat pembicaraan kami. Semua berjalan biasa, petualangan, perjalanan hingga kebersamaan bersama mereka dan ia yang menjadi salah satunya tetap tak menyinggung sedikit hatiku. Apa menariknya dia? Hanya saja ia pernah menarik salah satu dari rekanku untuk menjadi kisahnya. Tawanya masih sama dingin bagiku, hambar untukku. Hanya sebuah lelucon yang kemudian aku ikut tertawa dan terlarut dalam eratnya kita. Hingga suatu saat ketika waktu telah memberiku sebuah rasa, yang berbeda dan aku benci dengan semua hal ini.
            Aku terbangun bersama sebuah dongen dan Kini aku bermimpi, bagaimana menjadi seseorang yang spesial untukmu sahabatku sendiri. Aku bermimpi bagaimana setiap candaku menjadi hidup bersama tawamu,  candaku terasa manis bersama senyummu, dan candaku hangat bersama candamu pula. Aku kini menatapmu seseorang biasa menjadi luar biasa karena setiap tingkah konyolmu, kegilaan yang memalukan itu, dan setiap ucap yang mengecap begitu bermakna untukku. Aku kini bermimpi mendapat sebuah obat pengabul dari setiap kata asal yang kita rangkai menjadi rencana masa  depan. Aku bermimpi bersama dongen ini aku mampu menjadi sesuatu yang mampu menarik hatimu, rasamu, dan cintamu untukku yang tak semenarik mereka, ia, atau dia. Aku bermimpi sekarang mampu menjadi pendengarmu selalu setiap detiknya, menjadi seseorang yang menikmati senyummu dengan nyata dan tanpa berpura-pura. Aku bermimpi jika suatu saat aku tersenyum melihatmu tersenyum karena berada didekatku bukan tersenyum melihat engkau tersenyum kala bersamanya. Dan aku kini bermimpi menjadi bagian setiap sudut kebahagiaanmu selamanya.
            Kini kita telah melingkar bersama kebahagiaan kita, bersama kebahagiaan yang sempurna. Antara aku, kamu, dia,dia,dia, dia dan mereka semua yang sama-sama berjuang di ranah ini. kita tengah duduk melingkari sebuah meja bersama tawa-tawa kita yang menghangat bersama secangkir tawa, masing-masing dari kita menyeruputnya dan menikmati semua mimpi-mimpi kita. Dan aku, hanya tersudut menjadi bagian pengagum kegilaanmu yang kini terus berdoa, semoga suatu masa nyata akan mengapus kisah dongengku menjadi akhir yang bahagia.


Untukmu yang selalu kuamati geriknya diatara mereka lainnya. Salam sayang dariku yang tervonis to be like you J menyayangimu mimpi-mimpi negeri dongengku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar