“kini
daku tahu, mengapa Tuhan mempertemukan kita dalam jarak? Tak ada salah lagi, Ia
senantiasa mengizinkan kita untuk saling bertanya, siapa dikau?”.
Hari itu, sebuah pertemuan telah
menabur benih senyuman diantara kami. Benih yang kami jaga dan rawat sejak
dahulu, saat ia membiarkan jemari ini menari diatas setiap bagian keyboard. Benih
itu terlahir dalam jarak, dibuai oleh sebuah langit yang tetap menyatukan kami,
dan pupuk oleh sebuah penantian. Benih itu kini ikut menari, bagaikan rangkaian
aksara yang meleleh bersama pertemuan di sebuah sudut kota asal. Tak banyak
kataku kala itu, hanya malu yang kini terus menjadi rindu.
Pertama daku akan bercerita tentang
jarak yang setia menggelayut dalam kisahku. Kala itu daku mengenalnya melalui
jarak yang mendekat oleh langit. Jarak yang semakin banyak membentuk
pertanyaan. Bukan hanya jarak satu tempat ke tempat lainnya, tepatnya jarak
antara Semarang dan Palembang. Namun jarak mengenai hati ini dengan hatimu
tentu. Jarak itu telah membuatku tertarik oleh sosok di balik tanda tanya.
Jarak itulah yang daku yakini sebagai penguat kita ketika jarak itu kembali
hadir. Jarak? Akankah kembali berjarak rasa ini ketika kisah kita menakdirkan
kita untuk memiliki jarak pada tanah yang berpijak?
Hai langit, aku akan berterimakasih
padamu kali ini. Engkau memang hebat, tetap setia menjadi menghantarku untuk
bertemu dengannya walau hanya lewat doa. Sebelumnya daku tak pernah untuk
saling bertemu dengannya, namun sungguh hebatnya engkat mampu membuat aku dan
dia menjadi dekat. Bahkan begitu dekat. Engkau memang cerdik dalam memainkan
rasaku langit, pemuda itu tak pernah nampak dihadapanku, namun engkau mampu
membuatku selalu membayangkan dan mengingat setiap jengkal rautnya. Lebih luar
biasanya dikau langit, engkau kini yang telah membuat kami betatap lebih dekat,
bahkan begitu dekat dari jarakmu dan aku kala mengudara.
Tak hanya jarak dan langit yang
menari pada kisah kita. Ada sebuah kata sebagai bukti perjuangan kita untuk
mempertemukan kedua jarak tersebut oleh langin menjadi keindahan. Ya benar
sekali penantian. Apa pentingnya sebuah penantian dalam kisah ini? Lantas
sebesar apa penantian itu? Baiklah, kala itu kepulanganku merupakan sebuah
penantian yang begitu panjang bagi jarakku, penantian itu yang selalu menemani
setiap sudut ruangku. Tentunya penantian itu yang tengah dikau perjuangkan kala
itu. Mengamati jam berdetik, menunggu sebuah kedatangan di sudut keramaian.
Tentu saja kedatanganku. Penantian itu yang telah kita lukis bersama setelah
senyum itu melengkung pada jauhnya tanah yang kita rasa.
Semuanya mengindah seketika kala
pertemuan kita ecap bersama, pertemuan termanis dengan cara terindah. Pertemuan
yang lucu bahkan aneh ketika kita menyadari sebuah pertemuan itu telah berada
pada titik penghabisan.kebersamaan itu telah kita lalui dengan sebuah kisah
yang kita eja bersama. Canda, tawa, sakit, bahagia, sedih, ataupun bahagia
menjadi pelengkap kebersamaan kita. Hingga pada masanya daku akan kembali ke
ranah rantau, berarti pula jarakpun yang akan terus mengalun. Bukan sejauh mana
kaki kita berada yang daku takuti kali ini, namu sebuah jarak rasa yang terus
menghantui. Bertambah kembali tanyaku padamu, berada pada bagian mana diruku di
hatimu? Sekuat apa dirimu menjaga diriku? Sehebat apa dikau akan memegang erat
hatiku? Sebesar apa rasamu untuk meyakinkanku? Seberapa jauh hatimu dan hatiku
akan melangkah?.
Yakinlah, bukan dengan tidak sengaja
Tuhan mempertemukan kita sekarang. Bukan dsecara kebetulah kisah kita tertulis.
Sebuah takdir yang indah telah digariskan untukku. Dan kini bolehkah daku takut
akan takdir yang tidak daku kehendaki? Sebuah jarak yang akan terus memisahkan
kaki kita, bahkan rasa kita. Sebuah jarak yang akan terus menghapus kisah kita.
Sebuah jarak yang akan membuat jabatan hati ini semakin renta. Sebuah jarak
yang akan mengajarkan kita arti sebuah kehilangan bahkan melupakan. Ah sudahlah
daku yakit ini tidak akan terjadi pada kita.
Daku terus belajar untuk meletakanmu
pada posisi terbaik dalam hati ini. Tepat berada pada posisi spesial. Tentunya
tak melebihi rasa cintaku pada-Nya dan mereka. Satu inginku kali ini, hanya
ingin belajar menganggapmu biasa namun istimewa. Mencintaimu secara dewasa
tanpa rasa curiga. Semoga Allah tak pernah bosan untuk mengindahkan segala
kisah kita. Menjadikan kita kuat dalam jarak dan bijak dalam sikap. Percaya
padaku daku takkan pernah mengecewakanmu karena daku berharap yang sama padamu.
Perjelas rasa sayangmu (jika ia) maka akan selamanya daku percaya.
Semoga Tuhan tak pernah lelah
mempertemukan kita dalam doa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar