Senin, 11 Agustus 2014

Jarak, Langit, Penantian, serta Sebait Tanya

            “kini daku tahu, mengapa Tuhan mempertemukan kita dalam jarak? Tak ada salah lagi, Ia senantiasa mengizinkan kita untuk saling bertanya, siapa dikau?”.

            Hari itu, sebuah pertemuan telah menabur benih senyuman diantara kami. Benih yang kami jaga dan rawat sejak dahulu, saat ia membiarkan jemari ini menari diatas setiap bagian keyboard. Benih itu terlahir dalam jarak, dibuai oleh sebuah langit yang tetap menyatukan kami, dan pupuk oleh sebuah penantian. Benih itu kini ikut menari, bagaikan rangkaian aksara yang meleleh bersama pertemuan di sebuah sudut kota asal. Tak banyak kataku kala itu, hanya malu yang kini terus menjadi rindu.
            Pertama daku akan bercerita tentang jarak yang setia menggelayut dalam kisahku. Kala itu daku mengenalnya melalui jarak yang mendekat oleh langit. Jarak yang semakin banyak membentuk pertanyaan. Bukan hanya jarak satu tempat ke tempat lainnya, tepatnya jarak antara Semarang dan Palembang. Namun jarak mengenai hati ini dengan hatimu tentu. Jarak itu telah membuatku tertarik oleh sosok di balik tanda tanya. Jarak itulah yang daku yakini sebagai penguat kita ketika jarak itu kembali hadir. Jarak? Akankah kembali berjarak rasa ini ketika kisah kita menakdirkan kita untuk memiliki jarak pada tanah yang berpijak?
            Hai langit, aku akan berterimakasih padamu kali ini. Engkau memang hebat, tetap setia menjadi menghantarku untuk bertemu dengannya walau hanya lewat doa. Sebelumnya daku tak pernah untuk saling bertemu dengannya, namun sungguh hebatnya engkat mampu membuat aku dan dia menjadi dekat. Bahkan begitu dekat. Engkau memang cerdik dalam memainkan rasaku langit, pemuda itu tak pernah nampak dihadapanku, namun engkau mampu membuatku selalu membayangkan dan mengingat setiap jengkal rautnya. Lebih luar biasanya dikau langit, engkau kini yang telah membuat kami betatap lebih dekat, bahkan begitu dekat dari jarakmu dan aku kala mengudara.
            Tak hanya jarak dan langit yang menari pada kisah kita. Ada sebuah kata sebagai bukti perjuangan kita untuk mempertemukan kedua jarak tersebut oleh langin menjadi keindahan. Ya benar sekali penantian. Apa pentingnya sebuah penantian dalam kisah ini? Lantas sebesar apa penantian itu? Baiklah, kala itu kepulanganku merupakan sebuah penantian yang begitu panjang bagi jarakku, penantian itu yang selalu menemani setiap sudut ruangku. Tentunya penantian itu yang tengah dikau perjuangkan kala itu. Mengamati jam berdetik, menunggu sebuah kedatangan di sudut keramaian. Tentu saja kedatanganku. Penantian itu yang telah kita lukis bersama setelah senyum itu melengkung pada jauhnya tanah yang kita rasa.
            Semuanya mengindah seketika kala pertemuan kita ecap bersama, pertemuan termanis dengan cara terindah. Pertemuan yang lucu bahkan aneh ketika kita menyadari sebuah pertemuan itu telah berada pada titik penghabisan.kebersamaan itu telah kita lalui dengan sebuah kisah yang kita eja bersama. Canda, tawa, sakit, bahagia, sedih, ataupun bahagia menjadi pelengkap kebersamaan kita. Hingga pada masanya daku akan kembali ke ranah rantau, berarti pula jarakpun yang akan terus mengalun. Bukan sejauh mana kaki kita berada yang daku takuti kali ini, namu sebuah jarak rasa yang terus menghantui. Bertambah kembali tanyaku padamu, berada pada bagian mana diruku di hatimu? Sekuat apa dirimu menjaga diriku? Sehebat apa dikau akan memegang erat hatiku? Sebesar apa rasamu untuk meyakinkanku? Seberapa jauh hatimu dan hatiku akan melangkah?.
            Yakinlah, bukan dengan tidak sengaja Tuhan mempertemukan kita sekarang. Bukan dsecara kebetulah kisah kita tertulis. Sebuah takdir yang indah telah digariskan untukku. Dan kini bolehkah daku takut akan takdir yang tidak daku kehendaki? Sebuah jarak yang akan terus memisahkan kaki kita, bahkan rasa kita. Sebuah jarak yang akan terus menghapus kisah kita. Sebuah jarak yang akan membuat jabatan hati ini semakin renta. Sebuah jarak yang akan mengajarkan kita arti sebuah kehilangan bahkan melupakan. Ah sudahlah daku yakit ini tidak akan terjadi pada kita.
            Daku terus belajar untuk meletakanmu pada posisi terbaik dalam hati ini. Tepat berada pada posisi spesial. Tentunya tak melebihi rasa cintaku pada-Nya dan mereka. Satu inginku kali ini, hanya ingin belajar menganggapmu biasa namun istimewa. Mencintaimu secara dewasa tanpa rasa curiga. Semoga Allah tak pernah bosan untuk mengindahkan segala kisah kita. Menjadikan kita kuat dalam jarak dan bijak dalam sikap. Percaya padaku daku takkan pernah mengecewakanmu karena daku berharap yang sama padamu. Perjelas rasa sayangmu (jika ia) maka akan selamanya daku percaya.



Semoga Tuhan tak pernah lelah mempertemukan kita dalam doa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar